Buruh Dicekik oleh Wakilnya

RUU Cipta Kerja: Puisi Buruh Dicekik oleh Wakilnya

Buruh Dicekik oleh Wakilnya


mereka punya suara
dimasak oleh rakyat
yang harapannya kembali
dimakan rakyat

tapi tidak begitu
nasi matang disembunyikan
dan rakyat makan bubur
berlauk terasi hancur

di mading negeri
terpasang selembar kertas
bertuliskan pengurangan jatah
atas nama sama rata

tangis anak yang minta jajan
terdengar di telinga, di antara peluh
kantong-kantong lusuh para buruh
kelaparan dan sangat kurus

buruh dicekik oleh wakilnya
napasnya berkurang
lahirlah dari mata mereka
ketakutan pada setan tuli oligarki

yang menaruh diam-diam di atas meja
di antara wadah nasi kosong
seribu halaman lebih narasi
dengan pasal melukis senyum usaha mereka

lukisan itu dibuat dari darah nestapa
yang sedang mencari tenang
untuk masa tua
menikmati kopi di teras rumah

tetapi, harapan itu mati
dibunuh oleh wakilnya sendiri
dari kursi yang kosong sebagian
layaknya sinetron yang tampil menyedihkan

Bukan Kaleng – Kaleng

Lama awak mencari makna istilah baru bernama kaleng kaleng.  Belum juga ketemu bersebab kamus Besar Bahasa Indonesia belum pula memasukan istilah nan mulai populer akhir akhir ini kedalam catatan resmi..

Kaleng sepaham awak adalah sejenis benda yang digunakan untuk menampung barang. Misalnya cairan.  Cairan itu bisa berbentuk, air, minyak dan juga madu.  Bisa juga terkadang kaleng diisi benda padat seperti beras, tepung dan apa lagi pokoknya kaleng bermanfaat sesuai fungsi.

Ketika kaleng ditambah kaleng aka jadilah dia kaleng kaleng.  Lain pulak artinya.  Bisa jadi yang dimaksudkan disini kaleng kosong.  Kaleng pasca bayar ech maksudnya kaleng yang sudah tidak terpakai, penyok penyok pula bentuknya sehingga untuk sementara diletakkan di pinggiran jalan.

Kaleng (kaleng) itu acap  ditendang tendang, tambah penyoklah dia, kasihan.  Suara tendangan ke kaleng khas, tak enak didengar. Apalagi tukang angkat barang di pasar induk yang sedang emosi, maka tendangan keras sekelas Ronaldo menambah nestapa si kaleng.

Nah tulisan ini tinggal 1 paragraf. belum juga bisa mendefenisikan apa itu kaleng kaleng. Ada juga istilah Orang Medan, bukan kaleng kaleng kau. Mungkin dari sana asal muasal istilah bukan kaleng kaleng. Maksudnya profesional dia itu, benar benar ku bilang hebat kali kau ucok.

Judulnya Bukan Jendral Kaleng kaleng mungkin bisa membantu sedikit.  Artinya Jendral berbintang empat itu benar benar mantan seorang Pimpinan TNI.  Dia bukan Jendral Palsu.

Seorang purnawirawan berpangkat kopral juga merasa terhina bila di bilang kopral kaleng kaleng.  Beliau adalah pejuang sejati yang telah husnul khatimah dunia.

Ketika Pak Jendral dan Mas Kopral pensiun pada usia 58 tahun mendapat Surat Keputusan dari negara sebagai bentuk terima kasih maka syahlah dia mendapat uang pensiun setiap bulan.

Bukan perkara mudah menggapai husnul khatimah bagi pejabat yang masih bertugas di tengah godaan duniawi ketika menjalankan amanah negara.

Buktinya ada oknum Aparat Negara yang tidak husnul khatimah.  Artinya dia tersandung masalah hukum dan kemudian di sidang terus dipecat.  Sudah dipenjara tak pula mendapat uang pensiun, nah yang begini bolehlah di bilang ASN, kopral atau jendral kaleng kaleng.

Point yanh ingin awak sampaikan disini adalah  agar khalayak ramai hati hati menjudge atau me-labeli atau menuduh seorang Pensiuan TNI / Polri atau siapa saja dengan istilah kaleng kaleng.  Meraka pensiun dengan terhormat.  Apakah salah apabila  kini tetap peduli kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia.  Itu saja

Salam Literasi

Bagaimana kita menyikapi pendidikan Anak di Masa Pandemi Covid 19 dan Era New Normal

Proses pembelajaran di sekolah merupakan upaya peningkatan pengetahuan dan skill. Sebagian besar siswa menganggap sekolah adalah kegiatan yang menyenangkan, mereka bisa berinteraksi satu sama lain. Sekolah dapat meningkatkan keterampilan sosial dan kesadaran kelas sosial siswa. Sekolah secara keseluruhan adalah media interaksi antar siswa dan guru untuk meningkatkan kemampuan integensi, skill dan rasa kasih sayang diantara mereka. Tetapi sekarang kegiatan yang bernama sekolah berhenti dengan tiba-tiba karena gangguan Covid-19. Sekolah memberikan solusi dengan pembelajaran daring.

Pembelajaran daring
Daring merupakan singkatan daring (dalam jaringanâ) sebagai pengganti kata online yang sering kita gunakan dalam kaitannya dengan teknologi internet. Daring adalah terjemahan dari istilah online yang bermakna tersambung ke dalam jaringan internet.

Pembelajaran daring artinya adalah pembelajaran yang dilakukan secara online, menggunakan aplikasi pembelajaran maupun jejaring sosial.Pembelajaran daring merupakan pembelajaran yang dilakukan tanpa melakukan tatap muka, tetapi melalui platform yang telah tersedia.Segala bentuk materi pelajaran didistribusikan secara online, komunikasi juga dilakukan secara online, dan tes juga dilaksanakan secara online.

Permasalahan Pembelajaran Daring

Keterbatasan Penguasaan Teknologi Informasi oleh Guru dan Siswa. Kondisi guru di Indonesia pada umumnya dan di Kabupaten Magelang pada khususnya tidak seluruhnya paham penggunaan teknologi, terutama guru guru yang menjelang pensiun. Begitu juga dengan siswa, terutama yang dipelosok desa kurang menguasai teknologi untuk pembelajaran. Sarana dan Prasarana yang Kurang Memadai. Perangkat pendukung teknologi mahal.

Kesejahteraan guru (terutama GTT) maupun murid yang membatasi mereka dari serba terbatas dalam menikmati sarana dan prasarana teknologi informasi yang sangat diperlukan dengan musibah Covid-19 ini. Banyak hand phone hanya dimiliki orang tua, sehingga siswa hanya bisa mengerjakan tugas kalau orang tuanya sudah pulang kerja. Bilamana pembelajaran dan pengerjaan tugas dibatasi waktu otomatis tidak bisa mengikuti pembelajaran.
Tidak jarang juga siswa tidak bisa mengerjakan tugas karena tidak mampu membeli kuota paket data. Akses Internet yang terbatas. Tidak semua lembaga pendidikan baik sekolah dasar maupun sekolah menengah dapat menikmati internet dengan baik. Apalagi dipelosok pedesaan yang terkadang sinyal internet tidak ada.

Kurang siapnya penyediaan Anggaran. Aspek kesejahteraan guru (terutama GTT) dan murid masih jauh dari harapan. Ketika mereka menggunakan kuota internet untuk memenuhi kebutuhan media daring, akan terasa sangat berat.Keuangan negara belum mampu memenuhi secara keseluruhan.

Menyikapi pembelajaran pada masa pandemi dan new normal

Pemerintah.
Pemerintah memiliki peran yang sangat penting dan fundamental. Pemerintah sebagai penyandang dana utama Pendidikan melalui APBN. Dalam Inpres No. 4 Tahun 2020 dinyatakan diperlukan Langkah langkah cepat, tepat, focus, terpadu, dan sinergi antar kementerian/lembaga dan pemerintah daerah untuk melakukan kegiatan refokusing kegiatan, realokasi anggaran serta pengadaan barang dan jasa dalam rangka percepatan penanganan COVID 19, termasuk didalamnya di bidang Pendidikan.

Sekolah. Sekolah sebagai lembaga penyelenggara pendidikan harus bersiaga memfasilitasi perubahan apapun menyangkut pendidikan siswanya. Pendidikan tingkah laku harus menjadi pijakan kuat ditengah perkembangan teknologi dan arus percepatan informasi. Program-program pendidikan yang dilakukan sekolah harus benar-benar disampaikan kepada murid, terlebih dengan media daring tetap saja pihak sekolah harus benar-benar memperhatikan etika sebagai lembaga pendidikan. Penekanan belajar dirumah kepada murid harus benar-benar mendapat kawalan agar guru-guru yang mengajar melalui media daring tetap halus dan cerdas dalam menyampaikan pelajaran-pelajaran yang wajib dipahami oleh murid.

Sekolah yang memiliki dana cukup bisa juga dengan memfasilitasi siswa dengan membelikan paket data untuk mendukung pembelajaran daring. Dalam kondisi yang sangat terpaksa sekolah juga bisa membuat kebijakan dengan penugasan maupun tes secara luring, namun tetap memperhatian protokol Kesehatan.

Kemendikbud telah mengeluarkan protocol Kesehatan di sekolah untuk panduan penyelenggaraan pembelajaran pada tahun ajaran 2020/2021. Diantaranya wajib menggunakan masker (Setiap sekolah yang sudah membuka proses pembelajaran di sekolah wajib mempersiapkan sarana cuci tangan dengan air mengalir atau cairan pembersih tangan serta desinfektan), cek suhu( Setiap orang yang memasuki sekolah dicek suhunya dengan menggunakan thermogun),Waktu Kegiatan Belajar Mengajar masa transisi:(SMA, SMK, MA, MAK, SMP, MTs, paling cepat Juli 2020. SD, MI, dan SLB, paling cepat September 2020 ) masa new normal.(SMA, SMK, MA, MAK, SMP, MTs, paling cepat September 2020. SD, MI, dan SLB, paling cepat November 2020).Pendidikan dasar dan menengah haruslah jaga jarak minimal 1,5 meter dan maksimal 18 peserta didik per kelas (standar 28-36 peserta didik per kelas). Pada masa new normal kantin boleh beroperasi dengan tetap menjaga protokol kesehatan di sekolah. Kegiatan ekstrakurikuler diiperbolehkan, kecuali kegiatan dengan adanya penggunaan alat/fasilitas yang harus dipegang oleh banyak orang secara bergantian dalam waktu yang singkat dan/atau tidak memungkinkan penerapan jaga jarak minimal 1,5 meter, misalnya: basket dan voli.Kegiatan di luar KBM diperbolihkan dengan tetap menjaga protocol kesehatan.

Guru.
Guru memegang peran penting untuk mensukseskan pembelajaran daring. Seorang guru dituntut untuk meningkatkan kemampuan menggunakan teknologi terutama dalam kegiatan pembelajaran. Peningkatan penggunaan teknologi bisa dilakukan dengan belajar secara on – line maupun melalui diklat. .
Disamping itu Langkah pembelajaran daring harus seefektif mungkin. Guru bukan membebani murid dalam tugas-tugas yang dihantarkan dalam belajar di rumah. Guru bukan hanya memposisikan sebagai pentransfer ilmu, tetapi tetap saja mengutamakan ing ngarso sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.
Orang Tua, Peran orang tua dalam pembelajaran daring juga sangat penting. Orang tua bisa mendukung kegiatan daring dengan mendampingi siswa belajar, berbagi hand phone, memastikan kelancaran jaringan internet. Tidak kalah pentingnya juga memberikan motivasi kepada anak agar terus mau mengikuti pembelajaran. Orang tua harus membuka cakrawala dan tanggungjwab orang tua bahwa pendidikan anaknya harus dikembalikan pada upaya orang tua dalam mendidikan mental, sikap dan pengetahuan anak-anaknya.
Kerjasama antara orang tua, guru dan siswa juga sangat penting. Dalam situasi sekarang ini kondisi belajar membutuhkan adanya kerja sama kolaborasi antara guru, orang tua dan siswa. Proses belajar sekarang adalah kombinasi antara guru, murid dan orang tua. Orang tua pertama kalinya mengalami anak melaksanakan proses belajar di rumah karena adanya wabah. Hal ini membuat orangtua semakin sadar betapa sulitnya mendidik anak. Demikian juga di sisi guru juga semakin menyadari pentingnya peran orang tua dalam pendidikan. Dengan kesadaran pentingnya kolaborasi guru, orang tua dan siswa maka akan menciptakan kerja sama yang baik untuk mencapai kesuksesan dalam pendidikan. Kerja sama, saling melengkapi dan memberikan kontribusi sesuai dengan kapasitas, batasan dan ranah masing-masing.

“Parenting Islami” Salah Satu Konsep Mendidik Anak

Parenting Islami : 3 Kewajiban Orang Tua dalam Mendidik Anak Sesuai Ajaran Islam.
Islam mempunyai dasar dan tata cara tersendiri dalam mendidik anak. Karena dalam Islam, anak memiliki peran yang sangat penting.
Al-Quran Telah Memberikan Panduan yang Jelas dalam Mendidik Anak
Al-Quran Telah Memberikan Panduan yang Jelas dalam Mendidik Anak


Saat menikah dan kemudian berharap memiliki seorang anak; seharusnyalah kita juga telah mempersiapkan konsep seperti apa yang hendak kita terapkan dalam mendidik anak kita kelak, karena mendidik anak dalam Islam memiliki tata cara dan aturan tersendiri.

Di dalam Islam, anak memiliki kedudukan tersendiri yang harus kita jadikan pegangan dalam memilih model/cara mendidik anak yang akan kita lakukan.

Kedudukan Anak dalam Pandangan Islam
Mendidik anak dalam Islam harus didasarkan pada petunjuk dari Allah, yaitu Al-Quran, karena Al-Qur’an tidak hanya membahas tentang kewajiban anak kepada orang tua, namun juga kewajiban orang tua kepada anaknya.

Dan berikut ini adalah pandangan Al-Quran tentang anak, yang perlu kita ketahui dalam mendidik anak :

  1. Anak sebagai Amanah bagi Orangtuanya
    Selayaknya para bijak mengatakan bahwa sesungguhnya anak-anak bukanlah milik kita; mereka adalah titipan dari Allah kepada kita. Untuk itu sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk mendidik anak sesuai dengan yang telah Allah perintahkan. Jadi, adalah kesalahan bagi orang tua apabila seorang anak jauh dari ajaran Islam.
  2. Anak sebagai Generasi Penerus
    Anak adalah harapan di masa depan; merekalah kelak yang akan menjadi pengaman dan pelopor masa depan agama dan bangsa. Jadi wajib bagi kita mendidik mereka untuk menjadi generasi tangguh di masa depan. Lebih jauh, Allah memerintahkan kita sebagai orang tua untuk menjauhkan mreeka dari api neraka kelak.
  3. Anak adalah Tabungan Amal Kita di Akhirat
    Parenting Islami : 3 Kewajiban Orang Tua dalam Mendidik Anak Sesuai Ajaran Islam.

Seperti telah kita tahu, bahwa selain amal kita di dunia, sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak yang saleh merupakan amalan yang pahalanya akan terus mengalir hingga hari penghitungan kelak. Jadi, mendidik anak sesuai perintah Allah tetaplah merupakan keuntungan bagi diri kita juga pada akhirnya.

  1. Anak adalah Penghiburan dan Perhiasan Dunia bagi Orang Tuanya
    Anak adalah perhiasan bagi orang tua. Di satu sisi, ia akan menjadi penghibur di kala lelah dan kesusahan melanda, namun di satu sisi, ia juga dapat menggelincirkan dari jalan Allah.

Berdasar pemahaman akan kedudukan anak dalam al-Qur’an diatas, maka ada 3 kewajiban orang tua dalam mendidik anak, yaitu:

Ajak anak mengenal Allah sejak dini.
Ajak anak mengenal Allah sejak dini.

1.Memberikan Dasar Hubungan Harmonis dengan Allah SWT (Habbuminnallah)
Sebagai orang tua kita harus dapat mengenalkan kepada anak-anak kita siapa Allah dan mengapa kita wajib taat padaNya. Ketaatan itu tidak karena Allah adalah pencipta, dan pemilik kita, namun karena dengan taat kepadaNya, hidup kita akan menjadi lebih baik dan bahagia.

Dengan memberikan dasar sedemikian, maka anak tidak akan menganggap Allah sebagai sebagai “hakim” atau “pengawas”; namun sebagai zat yang memang kita butuhkan keberadaanNya. Hal inilah yang harus kita jadikan landasan utama dalam mendidik anak sekaligus merancang pola asuh yang tepat baginya.

Salah satu cara untuk memberikan dasar habbuminnallah adalah dengan mengajarkan shalat kepada anak semenjak kecil. Dan kemudian mulai memberikan pengertian mengapa kita harus shalat, apa manfaat shalat dan seterusnya.

  1. Memberikan dasar hubungan yang harmonis dengan orang-orang di sekelilingnya
    Dalam Islam, hubungan antar manusia (hablumminanas), sama pentingnya dengan hubungan manusia dengan Allah (hablumminnallah). Bahkan nabi Ibrahim berdoa kepada Allah: “… agar mereka dicintai orang-orang…” Jadi, wajib bagi kita mengajarkan tata cara pergaulan yang baik dengan sesama dan dilandasi rasa saling hormat-menghormati; serta mampu bersikap asertif.
  2. Memberikan dasar yang kuat guna menghadapi tantangan jaman
    Nabi pernah bersabda bahwa Beliau mengkhawatirkan umat dibelakangnya yang akan seperti busa di lautan; banyak namun tidak berpendirian. Hal semacam inilah yang harus kita pertimbangkan saat merencanakan pendidikan dasar bagi anak-anak kita.

Misalnya bagaimana agar ia menjadi anak yang kuat imannya, santun kepada sesama, serta kuat pula ilmunya. Ilmu akan membuat ia mampu bertahan serta senantiasa memiliki jalan ikhtiar untuk keluar dari permasalahan yang ia hadapi.

Nah, mari Parents, kita koreksi kembali apakah telah benar langkah yang kita ambil dalam mendidik anak kita di rumah. Jika masih ada yang kurang, mari kita lengkapi, jika ada yang keluar jalur, mari kita benahi.

“Anak” Dalam perspektif Islam

Sahabat, seperti yang telah kita ketahui bahwa anak merupakan manusia kecil yang memiliki potensi yang masih harus dikembangkan, anak memiliki karakteristik tertentu yang khas dan tidak sama dengan oang dewasa, mereka selalu aktif, dinamis, antusias dan ingin tahu terhadap apa yang dilihat, didengar, dirasakan, mereka seolah-olah tak pernah berhenti bereksplorasi dan belajar. Maka dari itu, anak perlu bimbingan orang dewasa atau kedua orang tua supaya anak-anak dapat berkembang sesuai dengan usianya dan seluruh tahapan pekembangannya bisa terpenuhi.

Mempunyai anak merupakan dambaan dan harapan setiap ayah bunda, mereka adalah hasil cinta kasih kedua orang tuanya. Buah hati, pelipur lara, pelengkap keceriaan rumah tangga, investasi masa depan, investasi pelindung orang tua ketika mereka telah lanjut usia.

Namun, tidak dipungkiri kenyataannya hidup didunia ini ada anak yang telah menjerumuskan dan mencemarkan nama baik keluarga akibat sikap anak yang menyimpang terhadap aturan dan norma yang berlaku, menyengsarakan kedua orang tuanya, Naudzubillah.

Tidak ada orang tua yang mengharapkan anaknya akan menyeretnya ke neraka. Banyak sekali orang tua yang menginginkan anaknya menjadi anak yang shaleh dan shalihah karena, do’a anak shaleh dan shalihah akan menjadi amalan yang terus mengalir terlebih ketika kedua orang tuanya sudah meninggal dunia. sebagaimana sabda Rasullulloh SAW :

“Jika anak Adam meninggal dunia terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga perkara yaitu : Sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang mendo’akan orang tuanya.” (HR. Muslim).

Sebelumnya dikisahkan bahwa suatu hari Rasullulah ditanyai mengenai hak-hak anak dari seorang Ayah. Beliau mengutip Qs. At-Tahrim : 6, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” Beliau melanjutkan, “Hak-hak seorang anak dari ayahnya ialah mengajari menulis, membaca, berenang, dan memanah.” Dan di suatu waktu yang berbeda beliau berkata, “Hak seorang anak dari ayahnya ialah memberi nama yang bagus, mendidik adat, dan sopan santun. Ketika sudah baligh, menikahkannya dan mengajarinnya membaca kitab.

Sahabatku, di dalam Al-Qur’an telah diterangkan 4 macam tipe kedudukan anak dalam hubungannya dengan orang tuanya. Apakah itu? Mari simak baik-baik penjabaran dalam Al Qur’an berikut ini :

Pertama ; FITNATUN (Ujian)

Dalam QS. Al Anfaal 8 : 28

Artinya : ” Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar”.

Sebagai Fitnatun/fitnah yang dapat terjadi pada kedua orang tua manakala anaknya bebuat yang durhaka dan menyimpang tidak sesuai dengan aturan norma yang berlaku. Seperti, mengkonsumsi narkoba, pergaulan bebas, tawuran pelajar, penipuan dsb. Yang intinya dapat membuat resah kedua orang tuanya.

Kedua ; ZIINATUN HAYAT (Perhiasan Dunia)

Perhatikan Q.S. Al Kahfi 18 : 46

Artinya : “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”

Sebagai perhiasan dunia artinya lebih baik untuk menjadi harapan, harapan kedua orang tua ketika anaknya rajin dan taat dalam beribadah, berbakti kepada kedua orang tua, sopan dan santun terhadap orang ada disekitar ataupun yang dimaksud anak sebagai perhiasan dunia adalah bahwa orang tua merasa sangat senang dan bangga dengan berbagai prestasi yang diperoleh oleh anak-anaknya, sehingga dia pun akan terbawa baik namanya di depan masyarakat.

Ketiga ; QURROTA A’YUN (Penyejuk Hati)

Simak dalam QS Al Furqaan 25 : 74

Artinya : “Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”

Sebagai Qurrata a’yun (penyejuk hati kedua orang tua). Ini kedudukan anak yang terbaik yakni manakala anak dapat menyenangkan hati dan menyejukan mata kedua orangtuanya. Ketika anak ditunjukkan untuk beribadah maka anak akan segera melaksanakannya, ketika anak diperintahkan untuk belajar anak akan langsung mentaatinya. Mereka juga anak-anak yang baik budi pekerti dan akhlaknya, ucapannya santun dan tingkah lakunya sangat sopan, serta memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi.

Keempat ; ‘ADUWWUN (Musuh)

Inilah yag paling dikuatirkan, simak QS. At Taghaabun 64 : 14

Artinya : “Hai orang-orang mu’min, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”

Sebagai ‘Aduwwun (musuh orang tuanya) yang dimaksud anak sebagai musuh adalah dimana ketika anak menjerumuskan keluarganya pada hal-hal yang tidak dibenarkan agama. Kenyataan kehidupan menunjukkan bahwa tidak sedikit anak yang berseteru dengan orang tuanya, misalnya orang tua yang diperkarakan oleh anaknya akibat perebutan harta warisan, anak yang menuntut hal berlebihan diluar kesanggupan orang tuanya bahkan sampai membunuh, Na’udzubillahi mindzalik. Ada juga anak yang lebih mencintai kekasihnya ketimbang aqidahnya sehingga dengan mudah ia menggadaikan agamanya, Innalillahi. Maka jika sudah begini bukan hanya menyiksa orang tua didunia tapi akan dipertanggung jawabkan diakhirat nanti.

Berbagai kejadian yang tidak dibenarkan agama pada zaman sekarang ini sungguh membuat hati miris. Tapi bersyukurlah bagi orang tua memiliki anak-anak yang tetap dalam nilai-nilai agama. Jagalah anak-anak kita karena mereka merupakan sebuah anugerah dan amanah (titipan) dari Allah SWT. Oleh karena itu, orang tua hendaknya memperhatikan kebutuhan perkembangan anaknya, agar anak dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan tahapan perkembangan dan usianya. Selain itu, orang tua harus memperhatikan lingkungan sosial ketika anak berteman dengan teman sebayanya karena lingkungan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi aspek-aspek perkembangannya. Karena teman juga sangat berpengaruh kepada perkembangan kepribadian serta akhlak mereka. Orang tua hendaknya menjadi figure atau contoh buat anak-anaknya. Karena anak merupakan cermin dari orang tuanya.Jika orangtuanya rajin shalat berjama’ah misalnya, maka anak-pun akan mudah kita ajak untuk shalat berjama’ah. Jika orang tua senantiasa berbicara dengan sopan dan lembut, maka anak-anak mereka-pun akan mudah menirunya.
“Semoga kita semua diberi kekuatan dan kemudahan dalam membina dan mengarahkan anak-anak kita kepada kelompok qurrota a’yun, sehingga mereka menjadi penyejuk hati, dan pembawa kebahagiaan bagi kedua orangtuanya baik di dunia maupun di akhirat.” Aamiin..
Demikianlah pembahasan ini, semoga bermanfaat.

Jangankan beli gadget beli beras saja sudah susah Pak, Ujar salah seorang Orangtua Siswa ketika ditemui

Pandemi Covid-19 telah memaksa masyarakat Indonesia semakin akrab dan melek teknologi. Dalam Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB), sistem pendidikan pun mulai menerapkan online.

Sayangnya, dengan populasi penduduk Kota Padangsidimpuan  216.013 jiwa, masih terjadi kesenjangan sosial sangat besar, antara si kaya dengan si miskin.

Alih-alih membeli gadget untuk mendukung kegiatan belajar mengajar anak-anaknya, terkadang orang tua murid masih kesulitan membeli beras, hanya untuk makan sehari-hari.

Belum lagi, koneksi internet dan dan listrik yang masih megap-megap di wilayah pelosok Bumi Dalihan Natolu, seperti tidak pernah tersentuh solusi dari Pemerintah Setempat

Pun jika masyarakat memiliki gadget canggih sekalipun, sulit untuk digunakan karena koneksi masih kembang kempis tadi.

Gambar diambil sebelum masa Pandemi Covid 19

Terlebih, Pemerintah Kota belum memiliki solusi untuk meringankan beban orang tua siswa yang tetap harus membayar Sumbangan Pembiayaan Pendidikan (SPP).

Meski anak-anak mereka tidak datang langsung ke sekolah dan tidak mendapat pembelajaran secara maksimal, terutama pada sekolah-sekolah swasta.

Pada sisi lain, guru honorer pun kehilangan pendapatan dengan diterapkan pendidikan sistem daring ini.

Karena pihak sekolah banyak merumahkan guru honorer. Lebih-lebih banyak orang tua siswa kewalahan untuk membayar SPP setiap bulannya.

Sebab, jangan sampai kondisi yang serba susah ini, membuat tenaga pengajar tidak fokus memberikan pembelajaran terhadap siswanya.

“Kewenangan pemerintah untuk mengatur anggaran di masa covid seperti ini, harusnya ada porsi ke pendidikan. Jadi keluhan honor, gak terjadi buat guru,” kata Abidin.

Ia pun mengaku mendapatkan informasi bahwa ada sekolah di swasta yang orang tua muridnya enggan atau tidak membayar kewajibannya kepada sekolah, dengan alasan anaknya tidak sekolah.

Abidin mengakui akan hal tersebut, terlebih sistem pembelajaran daring tidak bisa diterapkan secara merata di semua wilayah di Kota Padangsidimpuan.

Dikarenakan keterbatasan keuangan orang tua siswa, maupun sinyal yang sulit di dapat di wilayah yang cukup jauh.

Ia pun berharap ada solusi yang konkret yang dilakukan pemerintah.

Khususnya dalam memberikan kebijakan menyelematkan anak didik di Kota Padangsidimpuan yang sudah sekitar empat bulan lamanya tidak melakukan kegiatan belajar tatap muka.

“Pusat memberikan keleluasaan untuk zona hijau di wilayah melakukan pembelajaran tatap muka. Tapi itu semua dikembalikan kepada Pemda selaku pemegang kebijakan,” katanya.

“Kita tunggu hasilnya seperti apa. Karena kita juga sadar akan bahaya penularan jika mengijinkan sekolah tatap muka tanpa kajian yang jelas dan mendalam,” jelasnya.

Berbaktilah kepada Ibu dan Ayahmu karena itu lebih mulia dan utama daripada Jihad

Ilustrasi sang anak yang pamit kepada ibunya

Berbakti kepada kedua orang tua dalam agama Islam, memiliki kedudukan yang tinggi dan pahala yang besar.

Berbakti kepada kedua orang tua bukanlah sekadar balas jasa, bukan pula sekadar kesopanan, melainkan adalah perintah tauhid, lebih utama dari jihad, dan durhaka kepada keduanya termasuk dosa besar.⁣⁣

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, “Ada seorang laki-laki yang meminta izin kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk berjihad, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya.

“Apakah kedua orang tuamu masih hidup?’ Dia menjawab, ‘Ya, masih.”

Beliau pun bersabda “Maka pada keduanya, hendaklah engkau berjihad (berbakti).” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Imam Nawawi rahimahullah menerangkan bahwa hadits di atas adalah dalil keutamaan dan agungnya berbakti kepada kedua orang tua. “Berbakti kepada kedua orang tua lebih utama dibandingkan jihad”. Syarh Shahih Muslim, 16:95).⁣
Dari Urwah atau selainnya, ia menceritakan bahwa Abu Hurairah pernah melihat dua orang. Lalu beliau berkata kepada salah satunya, “Apa hubungan dia denganmu?” Orang itu menjawab, “Dia ayahku.” Abu Hurairah lalu berkata, “Janganlah engkau memanggil ayahmu dengan namanya saja, janganlah berjalan di hadapannya dan janganlah duduk sebelum ia duduk.” (HR. Bukhari dalam Adab Al-Mufrad, no. 44. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih secara sanad).⁣

Dalam riwayat lain, Dari ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata. “Aku pernah tanyakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ‘Amal apakah yang paling dicintai Allah?’ Beliau menjawab, ‘Shalat pada waktunya.’ ‘Lalu apa lagi?’ Tanyaku. Beliau menjawab, ‘Berbakti kepada kedua orang tua.’ Lebih lanjut, kutanyakan, ‘Lalu apa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Jihad di jalan Allah.” [Muttafaq ‘alaih].

Dari hadits diatas, membuktikan bahwa Rasulullah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lebih mengutamakan berbakti kepada orang tua daripada berjihad. Walaupun berjihad di jalan Allah memiliki banyak keistimewaan, tetapi berbakti kepada orang tua lebih mulia kedudukannya.

Sementara itu, bagi mereka yang orang tuanya sudah meninggal, doakanlah orang tuanya setiap saat agar Allah Subhanahu Wa Ta’ala luaskan kuburnya dan ditempatkan di sebuah taman di antara taman-taman surga. Wallahu A’lam Bishawab..

%d bloggers like this: